Sabtu, 15 Januari 2011

AIR SUMBER KEHIDUPAN
Tahukah Anda bahwa sekitar 1,1 milyar (sekitar 16.5%) penduduk dunia tidak mempunyai akses terhadap air minum dan 2,4 milyar (sekitar 35.8%) penduduk dunia tidak mempunyai akses terhadap sanitasi yang memadai? Padahal ketersediaan air bersih terkait erat dengan masalah kesehatan, mengurangi kemiskinan, berkurang-nya angka kematian anak serta peningkatan kualitas SDM. Bahkan ketersediaan air bersih seringkali menjadi salah satu penyebab terbesar kematian penduduknya.

Dalam memenuhi kebutuhannya, setiap manusia memerlukan sekitar 100 liter air bersih Per orang/hari. Sehingga kebutuhan air secara nasional Pada tahun 2003 mencapai 112,275 milyar m³ dan diperkirakan akan Pada tahun 2020 menjadi 127,7 milyar m³. Peningkatan jumlah penduduk tentunya akan meningkatkan jumlah kebutuhan air. Padahal, karena penanganan yang kurang memadai, maka sekitar 70% dari air yang tersedia harus diolah terlebih dahulu sebelum dapat digunakan kembali. Pembiayaan yang dikeluarkan dunia untuk mengolah air limbah saat ini adalah sekitar US $ 14 juta dan itupun masih jauh dari distribusi yang merata dan mencukupi.
Dengan curah hujan Indonesia yang berkisar antara 1000 - 4000 mm/thn, seharusnya dapat dipastikan bahwa sebagian besar Indonesia tidak akan kekurangan air bersih. Namun pengelolaan lingkungan yang kurang memadai, kerusakan lingkungan serta faktor-faktor lain menyebabkan kita mengalami kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan. Pada tahun 2003 saja, diketahui bahwa defisit air di P.Jawa, Bali dan Nusa Tenggara adalah sebesar 13,4 milyar m³.
Konversi dan alih fungsi lahan, kerusakan hutan dan lahan, pencemaran air akibat industri, pertanian dan domestik adalah sebagian penyebab dari menurunnya kualitas air. Dari data tahun 2005, diketahui bahwa sebagian besar sungai, situ dan danau di Indonesia yang menjadi sumber air telah mengalami pencemaran dan kerusakan lingkungan dari tingkat ringan sampai berat. lronisnya, disadari atau tidak, seringkali kita memboroskan air dalam keseharian kita.

Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk menghemat air?
1. Buat parit/areal/sumur resapan untuk menampung air curah hujan. Upayakan agar halaman rumah Anda dapat menyerap air dan tanam sebanyak mungkin pohon di lingkungan Anda untuk mengurangi ketimpangan persediaan air pada musim hujan dan musim kemarau, namun juga akan menambah pasokan air bersih yang pada gilirannya akan dapat mencegah banjir dan kekeringan serta mengurangi intrusi air laut.
  • Areal Terbuka/Taman Resapan: Untuk meresapkan air hujan yang turun ke permukaan tanah. Caranya: taman diberi pembatas setinggi +/-10 cm dan buat lubang-lubang resapan biopori tersebar di taman sebaiknya dekat tanaman.
  • Parit Resapan: Untuk meresapkan air hujan yang turun ke permukaan dan limpasan tandon air. Caranya: buat parit dengan lebar 20-30 cm dan kedalaman 10-15 cm, buat lubang-lubang resapan biopori di dalamnya.
  • Lubang Resapan Biopori: Untuk mempercepat proses peresapan air di taman, parit maupun limpasan tandon air. Caranya: Buat lubang silindris diameter 10-15 cm dengan kedalaman tidak lebih dari muka air tanah, jarak antar lubang 50-100 cm. Mulut lubang dikelilingi adukan semen setebal 2-3 cm setebal 2 cm dan isi lubang dengan sampah organik. Setiap 50 m² luas lahan dapat dibuat 20 lubang.
2. Tampunglah air bekas mencuci beras/sayur/daging dan gunakan untuk menyiram tanaman.
3. Tampunglah air yang tetap mengalir saat berwudhu. Jika setiap berwudhu air yang dapat ditampung sekitar 1-1,5 liter/orang, maka berapa banyak air bersih yang selama ini telah terbuang sia-sia?
4. Rata-rata air keran mengalirkan 9 liter air/menit, jadi jangan biarkan air keran terus mengalir selama menyikat gigi atau mencuci mobil. Gunakan lap, ember dan gayung untuk mencuci mobil, upayakan agar air pencucian mobil (jika tanpa sabun) dapat kembali masuk ke tanah.
5. Saat mencuci baju, bilas dengan air secukupnya. Jika mencuci baju dengan mesin cuci, gunakan dengan jumlah yang memenuhi kapasitas maximal dari mesin. Gunakan baju secara efisien, tidak semua baju harus dicuci setiap habis digunakan. Hal ini akan menghemat air, listrik dan sabun cuci yang berpotensi untuk mencemarkan air. Manfaatkan air bilasan terakhir cucian ini untuk mengepel lantai atau membersihkan kamar mandi.
6. Bila mungkin gunakan shower untuk mandi dalam daya pancur sedang daripada dengan gayung. Ini akan menghemat air hingga sepertiganya. Gunakankakus yang membedakan volume air siram untuk buang air kecil dan besar.
7. Jika memungkinkan, upayakan agar air limbah rumah tangga dapat diolah kembali - baik dengan alat pengolah limbah maupun melalui fitoremediasi - sehingga dapat digunakan kembali (paling tidak untuk menyiram tanaman) atau jika tidak akan digunakan kembali, tetap aman jika dibuang ke lingkungan.
Apakah FITOREMEDIASI ?
Fitoremediasi adalah upaya mengolah air limbah dengan media tanaman, yaitu dimana tanaman tertentu dengan bekerjasama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral, dan air) dapat mengubah zat pencemar menjadi kurang atau tidak berbahaya. Contohnya untuk membersihkan tanaman yang tercemar Cadmium (Cd) dari pestisida digunakan pohon poplar, untuk membersihkan tanah dan air tanah yang mengandung bahan peledak digunakan Potomegeton pectinatus, Hetrathera, Elodea Canadensis.
Di Indonesia, penggunaan fitoremediasi dengan metode wetland banyak digunakan di Bali dengan sebutan waste water garden, berupa kolam dari psangan batu diisi koral setinggi 80 cm yang ditanami tanaman air yang selanjutnya dialirkan air limbah (grey water dan effluent dari septic tank) yang terlebih dahulu telah dilewatkan unit pengendap. Ada 27 jenis tanaman di Bali yang dapat digunakan untuk fitoremediasi ini.

Fakta Seputar Pentingnya Air Bersih
  • Kurangnya akses terhadap air minum, sanitasi dan rendah-nya kondisi hygiene menyebabkan 3 juta penduduk dunia di negara berkembang, terutama anak-anak meninggal setiap tahunnya.
Penggunaan air/org/hari:
Orang Desa: 80 liter/org/hr
Orang Kota Kelas Menengah 150 liter/org/hr
Orang Kota Kelas Atas: 240 liter/org/hr (sumber: Konphalindo)
  • Dalam 10 tahun terakhir, penyakit diare membunuh lebih banyak korban -terutama anak-anak- dibandingkan dengan korban PD II. Sedangkan di Cina, India dan Indonesia jumlah penduduk yang meninggal akibat diare adalah 2x lipat meninggat akibat HIV/AIDS. Tahun 1998,jumlah korban meninggal akibat perang di Afrika adalah sebanyak 308 ribu orang, sedangkan jumlah korban meninggal akibat diare adalah lebih dari 2 juta orang.
  • 200 juta penduduk dunia menderita penyakit schrisfosomiasis, angka kejadian tersebut dapat di kurangi sampai 77% dengan memperbaiki aksesibilitas air minum dan sanitasi.
  • Kaum perempuan diAfrika dan Asia menempuh jarak 6km berjalan kaki untuk mengambil air dan membawanya dengan berat rata-rata 20 kg.
  • Tarif air minum di daerah miskin di Kenya adalah 5 x dari yang dibebankan kepada penduduk di USA.
Dengan semakin berkurangnya kualitas dan kuantitas air akan semakin mahal pula biaya untuk pengadaan air, sehingga akan semakin terbatas pula masyarakat yang mampu mempunyai akses terhadap air bersih. Pada tahun 2020, diprediksi Indonesia, seperti juga negara-negara lain, akan mengalami krisis air bersih. Dengan upaya bersama -kita berharap- agar Indonesia dapat melewati masa itu.

Sumber : Kementerian Negara Lingkungan Hidup

Kelangkaan Air Bersih

Kelangkaan Air Bersih
Berdasarkan analisis dari data di PBB, 20 tahun ke depan, dua per tiga manusia hanya akan mendapatkan sedikit atau bahkan tidak sama sekali air bersih. Info lebih lengkap klik ->(http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=52413)